Selasa, 03 Maret 2009

Menyaksikan Keelokan Air Terjun Lumpo

FOTO-FOTO: KOMPAS/AGNES RITA SULISTYAWATY
Air terjun Lumpo di Taman Nasional Kerinci Seblat bagian Nagari Lumpo, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, akan tampak bersusun tiga bila dilihat dari jauh.
Minggu, 8 Februari 2009 | 01:16 WIB

Agnes Rita sulistyawaty

Air terjun Lumpo terletak di balik salah satu bukit Nagari Lumpo, Kecamatan Salido, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Tanjakan terjal yang membuat kaki harus menekuk hingga 40 derajat menjadi pintu masuk ke air terjun bersusun tiga itu.

Keheningan pohon bertudung lebat dipecah gemericik air sungai-sungai sepanjang perjalanan kami. Suara burung rangkong sesekali meningkahi sepi perjalanan kami.

Perjalanan tujuh kilometer menuju air terjun itu menghabiskan waktu 4-5 jam di jalan setapak, terutama bagi pemula yang belum terbiasa dengan tanjakan. Peluh dipastikan membanjir dan pegal linu di persendian kaki pun terasa amat sangat.

Perjalanan itulah yang ditempuh tim jelajah Kompas-Gramedia: Kompas, Kompas.com, dan Tribun Pekanbaru, pertengahan Januari lalu.

Perjalanan dimulai sejak pukul 08.15 menyusuri hutan yang menjadi bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) wilayah barat. Arif Wibowo yang polisi hutan serta dua warga setempat, Arisman dan Afrizal, menemani perjalanan yang baru terselesaikan saat gelap mulai menyelimuti desa terakhir.

Keindahan dalam hutan

Tepat setelah melewati desa terakhir, kami berjalan melintasi tebing terjal. Tumpuan tangan hanya pada ujung batu dan kaki di celah-celah batu. Di bawah tebing, sungai beraliran deras.

Selepas itu, kami melewati persawahan penduduk sebelum masuk ke hutan. Hutan pertama yang kami lewati belum masuk kawasan TNKS. Batas wilayah TNKS secara mudah ditentukan oleh deretan pohon pinang.

Sebelum sampai ke batas itu, lahan hutan dimanfaatkan penduduk untuk menanam karet, durian, dan kayu manis. Beberapa pohon karet hutan sebesar pelukan tangan orang dewasa tampak kering lantaran si empunya meninggalkan sementara sadap-menyadap getah gara-gara harga karet rendahnya bukan buatan.

”Sekarang harga karet masih Rp 3.000 per kilogram sehingga orang-orang mencari kerja lain. Kalau harga sudah kembali seperti dulu—pernah sampai Rp 9.000 per kilogram—barulah karet disadap lagi,” ujar Arisman yang mempunyai 150 batang pohon karet di kawasan perbatasan.

Ketika melewati sebuah tikungan, terdapat pohon kayu manis yang telah dikuliti. Rupanya, pohon itu milik Arisman. Pria yang kerap keluar-masuk rimba ini baru saja memanen kulit kayu manis seberat 60 kilogram dari pohon itu. Kekuatan fisik penduduk setempat memang luar biasa sehingga beban seberat itu sanggup dipikul di jalan terjal sejauh sekitar 3 kilometer dengan waktu tempuh hanya 1,5 jam. Sementara, kami yang hanya membawa beban ala kadarnya membutuhkan waktu sampai 3 jam untuk menyelesaikan rute itu.

Di dalam kawasan konservasi, pohon-pohon besar seperti banio, rasak, meranti, dan medang menaungi sepanjang jalan. Sengatan matahari sama sekali tidak terasa. Tanah tampak merah, sedikit becek dan licin, seolah-olah baru satu jam lalu terguyur air.

Akar pohon yang kuat menyediakan diri sebagai pijakan kaki agar kami bisa melangkah lebih tinggi. Saat menuruni jalan, akar pohon inilah yang menjadi anak tangga.

Pelbagai tumbuhan perdu ikut membantu sebagai tumpuan mendaki lereng bukit. Tetapi, harap hati-hati juga memegang tanaman hutan karena rupanya ada yang berduri, seperti rotan manau dan rotan sago.

Setelah sampai puncak bukit dengan ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut (m dpl), kami harus turun lagi ke lokasi air terjun yang berketinggian 300 m dpl.

Dalam perjalanan turun itulah kami bertemu kubangan rusa hutan atau babi hutan. Ukuran kubangan tidak terlalu luas, paling-paling berdiameter 1 meter, dan tergenangi air berwarna kopi susu.

Berseberangan dengan kubangan itu terdapat pohon pulai. Kulit pohon itu terluka dan terdapat goresan cakar tangan beruang madu. Daun tumbuhan liana dan rumput hutan di sekitar kubangan tampak bolong-bolong.

”Ah, ini karena dimakan kambing hutan. Itu, lihat tapak kaki kambing hutan masih terlihat,” ujar Afrizal, sambil menunjuk cetakan tapak kaki kambing di tanah yang amat lembab.

Tidak sampai 100 meter perjalanan menuruni bukit, tampak gundukan daun-daun.

”Inilah ’puskesmas’ babi, tempat babi hutan melahirkan anak dan menjaga anak mereka sampai kuat berjalan. Babi hutan akan tinggal di dalam gundukan ini sampai siap melesat ke dalam hutan yang rimbun bersama anak yang baru dilahirkan,” papar Arif.

Air terjun

Perjalanan menuruni bukit menuju air terjun menjadi pekerjaan ekstra bagi kaki untuk menahan badan agar tidak meluncur melewati jalur. Tanah yang licin serta minimnya pohon kecil yang bisa menjadi pegangan membuat kami tak jarang harus melorot.

Deru air terjun memenuhi liang telinga, seperti menyerukan balada kebebasan alam. Kami disambut air terjun kecil. Tetapi, pemandangan alam yang semula kami kira adalah yang paling hebat ini rupanya belum apa-apa. Masih ada air terjun sesungguhnya.

Setelah meletakkan beban di ruang lapang yang biasa dijadikan tempat berkemah, kami melanjutkan perjalanan sekitar 300 meter ke kaki air terjun.

Kami berada sekitar lima meter saja dari bawah titik temu air terjun dengan sungai. Angin yang kuat membawa titik-titik air serupa hujan rintik. Inilah asal sumber air untuk masyarakat Nagari Lumpo. Pohon-pohon besar di sepanjang perjalanan dan di sekitar air terjun merupakan penjamin ketersediaan air.

Hilang sudah penat sepanjang perjalanan. Udara segar dan sejuk merasuki tubuh, menghilangkan lelah, dan menggantinya dengan rasa lapar.

Setelah puas berfoto, kami kembali menuju tempat ransel. Makan siang segera terhidang dan kami makan dengan lahap di cekungan yang berdindingkan tebing alam.

Air dari perbekalan telah habis. Botol-botol air segera kami isi dengan air dari sungai di sekitar air terjun. Dingin alami.

”Sungai itu juga menjadi tempat hidup ikan. Biasanya, kalau kami sengaja memancing, bisa dapat ikan yang panjangnya selengan manusia dewasa,” tutur Arisman.

Sayang, kami tidak sempat memancing karena 1,5 jam berselang kami harus kembali. Untunglah kami sempat dihibur dengan melihat rangkong terbang dari satu sisi tebing ke sisi lain. Begitu cepatnya gerakan si rangkong, kamera kami tidak sempat menangkap bentuk burung berparuh cabang ini.

Keindahan tiga tingkat air terjun rupanya tidak bisa dinikmati di pusat cekungan tempat kami beristirahat. Di tengah perjalanan pulang, setelah bukit mulai didaki, barulah tampak pemandangan tiga tingkat air terjun itu. Jaraknya sekitar 700 meter garis lurus dari tempat kami berdiri. Sayangnya, untuk menuju tingkat kedua harus melewati jalan melingkar yang juga terjal.

Inilah keelokan alam, satu dari 17 ciptaan alam di TNKS yang sebenarnya masih mungkin dikembangkan sebagai obyek wisata minat khusus di Sumatera Barat. Tentu, perlu penataan dan perencanaan yang baik agar tidak berbalik merusak alam.

Info untuk kenyamanan perjalanan wisata anda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar